RSS

Kurangnya Figuritas yang Patut dicontoh Penyebab Tawuran di Kalangan Remaja

27 Mar

13541624352076693093Para ahli pendidikan berpendapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun, yang ditandai dengan terjadi perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial. Pada usia tersebut, seorang anak sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi dari anak menuju dewasa, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang, yang mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, dan dapat juga melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat. (Karimis, 2012)

Hal ini terjadi karena mereka memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas dan pola hidup melalui metoda coba-coba, walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja. Salah satu bentuk perilaku menyimpang remaja itu adalah adanya terjadi tawuran antarpelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU/SMK, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus.

Ada yang mengatakan bahwa tawuran itu merupakan sebuah proses di usia remaja untuk mencari jati diri. Saya sepakat jika usia remaja adalah sebuah fase  untuk mengekspresikan darah muda mereka. Tapi, saya kurang sepakat jika hal itu harus dilampiaskan dalam bentuk tawuran karena bisa merusak otak. Pertumbuhan remaja yang baik itu seharusnya dengan menanamkan kreativitas, bukan adu otot atau adu nyali. Penyebab penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di kalangan remaja mungkin  berasal  pola kehidupan masyarakat kita.

Pada artikel Komunitas Bicara  dituliskan  bahwa di Jakarta, di akhir bulan September telah terjadi dua kali tawuran pelajar yang memakan korban jiwa, pertama; Senin tanggal 24 September 2012, terjadi aksi tawuran antara siswa antara SMA N 6 dan SMA N 70 yang terjadi di Jalan Bulungan, Jakarta Selatan, memakan korban jiwa Alawy Putra Yustianto (15), siswa kelas X SMA N 6 tewas setelah mengalami luka bacokan di dada. Kabarnya, tawuran yang melibatkan kedua sekolah ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Kedua; Rabu tanggal 26 September 2012, Deni Januar tewas dalam tawuran antara SMK Yayasan Karya 66 dan SMK Kartika Zeni di Manggarai.

Setelah membaca artikel tersebut, saya merasa sangat prihatin. Hal ini  bukan sebagian dari proses pertumbuhan remaja, tetapi justru kemunduran, karena ini adalah tindakan kriminal yang terorganisir. Apalagi jika siswa sekolah sampai membawa senjata tajam, bahkan bawa bom molotov segala. Jika kasus seperti ini didiamkan saja, bukan tidak mungkin jika penerus bangsa ini bisa menjadi preman semua.

Saya sangat prihatin kenapa penegak hukum, para pendidik dan kepala sekolah selama ini hanya berdiam diri kalau mereka tahu diantara pelajarnya ada konflik yang mengakibatkan tawuran. Sangat saya sayangkan, jika semua pihak yang terkait tidak melakukan tindakan menghukum dengan tegas oknum-oknum provokator yang memicu  tawuran.

Kita tidak boleh saling menyalahkan antara orangtua atau sekolah. Semua pihak harus bekerja sama demi kebaikan.”Hal ini tentu sangat miris sekali, pasalnya remaja yang masih memiliki masa depan yang panjang nyawanya telah  terenggut dalam peristiwa tawuran.  Bukan  tidak mungkin jika peristiwa yang merenggut nyawa tersebut  juga bisa sampai ke daerah kita ini.

Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja. Kenakalan remaja berasal dari bahasa Latin yaitu “Juvenile” dan ‘delinguere’, yang sering juga disebut “Juvenile delinguency” atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. (Karimis, 2012)

Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dilihat secara umum, penyebab terjadinya perilaku “nakal” remaja menurut artikel Biro Bina Sosial. 2012 bisa disebabkan oleh factor-faktor sebagai berikut.

1. Figuritas

Ada istilah “kebo nyusu gudel”, mungkin seperti itulah istilah bagi usia remaja. Sebuah proses bagi dia untuk meniru dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Para remaja itu sebenarnya butuh figur yang bisa mengarahkan aktifitas darah mudanya ke arah positif. Tapi  kenyataannya para tokoh dan orang-orang pintar yang harusnya bisa menjadi kebo untuk diambil susu oleh gudelnya, justru malah memberikan sebuah contoh yang kurang baik pagi masyarakat kita khususnya remaja.

Saya sangat setuju sengan pernyataan ini, dapat diambil contoh yaitu Kisruh PSSI yang tak kunjung henti.. Gontok-gontokan dan banyak hal lagi perilaku para tokoh yang tak patut untuk ditiru. Secara fisik mungkin mereka tak nampak melakukan tawuran, tapi secara intelektual saya rasa mereka sudah bisa dikatakan tawuran.  Belum lagi ulah  mahasiswa, yang seharusnya bisa memberi tauladan dalam mengekspresikan aspirasinya. Ternyata kadang melakukan aksi anarki yang mengatasnamakan demokrasi.

  1. 2.    Media

Salah satu pengarah perilaku kehidupan masyarakat khususnya remaja adalah media. Ambil contoh sederhana saja Facebook, yang secara tidak langsung merubah perilaku remaja kita. Begitu halnya dengan media kita, terutama televisi dan industri perfilman. Disinilah fungsi lembaga sensor untuk bijak memilah mana tayangan yang layak dikonsumsi oleh masyarakat sesuai dengan budaya ketimuran kita. Bukan hanya sebatas konten porno saja, tapi tayangan yang sarat hedonis, kebarat-baratan dan penuh kekerasan untuk dikaji ulang ketika hendak dipertontonkan. Jika saja pihak pertelevisian mau menayangkan tontonan-tontonan yang penuh teladan, saya rasa akan berefek positif bagi perilaku masyarakat kita.

  1. 3.    Pendidikan

Salah satu kekurangan sistem UNAS dalam pendidikan kita adalah sebuah kecenderungan bagi sekolah untuk terus menggenjot IQ siswanya. Namun, di satu sisi ada sebuah kecerdasan yang sekarang sepertinya diabaikan atau malah dilupakan yaitu Emotional Quotient. Sebuah kecerdasan menggunakan perasaan untuk memadukan pikiran dan tindakan. Disinilah fungsi eskul untuk memberikan pelajaran EQ tersebut kepada siswa. Dengan harapan agar terjadi sebuah keseimbangan kecerdasan antara IQ dan EQ pada siswa.

  1. 4.    Fanatik Berlebihan

Sebagian besar tawuran diawali dengan hal-hal sepele akibat konflik individu. Akibat sebuah provokasi, kemudian yang lainnya ikut-ikutan tawuran. Seperti fanatik berlebihan  membela teman genk atau kelompok.

Fanatik pada kelompok mungkin sah-sah saja, tapi jika berlebihan itu akan berbahaya. Hanya akan menimbulkan kecintaan pada kelompok sendiri dan membenci sekaligus ingin mendominasi kelompok lainnya. Sudah waktunya bagi kita merubah pola pikir fanatik yang ada pada diri kita. Jika rasa fanatik itu bisa dialihkan ke hal-hal positif, maka  akan berdampak positif juga terhadap perilaku remaja.

  1. 5.    Kurang Perhatian

Masa remaja adalah masa dimana eksistensi mereka ingin diperhatikan. Namun, kadang mereka menunjukkannya dengan jalan yang salah. Balapan liar dan genk mungkin itu salah satu contohnya. Saya rasa semua itu terjadi karena mereka mendapat kurang perhatian dalam keluarga mereka. Uang tak sepenuhnya bisa mengganti wujud kasih sayang. Demikian halnya fasilitas tak selamanya akan membuat anak-anak anda akan  puas. Perhatian penuh kasih sayang lah yang sebenarnya ingin mereka dapatkan.

  1. 6.    Kurang Kerjaan

Ada istilah “tak kenal maka tak sayang”, Jika anda sayang mungkin anda tak akan menyerang. Jika pernah melakukan sinergi tentu saja akan mudah memahami. Disinilah pentingnya sebuah organisasi kemasyarakatan agar mereka bisa saling bersinergi, memahami dan berkarya bersama ke arah positif. Yah, masyarakat harus punya wadah untuk berkegiatan. Sebab, tawuran itu adakalanya dilakukan oleh mereka yang kurang kerjaan.

  1. 7.    Hukum yang Jelas

Segala bentuk pelanggaran tentunya harus ada tindakan hukum yang tegas agar tidak kembali dilakukan. Disinilah peran aparat untuk bisa menegakkan hukum setinggi-tingginya. Tawuran mungkin bisa dianggap sebagai tindak kenakalan remaja, tapi jika sudah memakan korban jiwa hal tersebut sudah masuk perkara kriminal. Berikan sebuah hukum yang jelas kepada pelaku tawuran. Tak cukup hanya sebatas peringatan, tapi harus ada hukuman yang bisa memberikan efek jera pada yang lainnya.

Berdasarkan faktor-faktor yang telah disebutkan, menurut saya faktor kurangnya figur yang dapat dijadikan sebagai contoh merupakan faktor utama atau yang paling banyak menyebabkan timbulnya tawuran di kalangan remaja. Karena dengan berkurang atau sedikitnya figur yang baik yang patut dijadikan suri tauladan ketimbang figur yang tidak baik untuk dicontoh para remaja, sudah pasti kenakalan remaja dalam hal ini tawuran akan semakin meningkat yang berdampak bagi kehidupannya sendiri juga kehidupan masyarakat luas. Dalam hal ini peran keluarga sangat penting dalam membimbing remaja-remaja saat ini.

Untuk menghindari tawuran, mungkin sekolah harus mengadakan perkenalan pelajar antar sekolah. Juga diadakan kembali lomba-lomba, seperti cerdas cermat itu. Dan, pihak sekolah yang biasa jadi langganan tawuran, harus saling mengadakan pertemuan antar sekolah.

Mungkin sudah waktunya pagi para tokoh itu untuk memberikan tontonan elegan dan santun buat masyarakat kita. Sudah waktunya pula bagi teman-teman mahasiswa serta seluruh masyarakat dewasa untuk memberikan contoh yang baik agar dapat menjadi figur  tauladan bagi para remaja.

Tawuran mungkin tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dicegah jika saja semua kalangan mau peduli dan ikut andil dalam mengharmoniskan hubungan bermasyarakat.

Sumber:

Karimis. 2012. KENAKALAN REMAJA DAN UPAYA MENGATASINYA diakses dari http://www.sumbarprov.go.id/detail_artikel.php?id=1294

Biro Bina Sosial. 2012. Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran diakses dari http://www.essip.us/2012/10/cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran.html

Komunitas Bicara. 2012. Gantung si Biang Tawuran diakses dari http://www.tnol.co.id/komunitas-bicara/16367-gantung-si-biang-tawuran.html

 
Leave a comment

Posted by on March 27, 2013 in Opini, pendidikan

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s